CARA MENCEGAH DIARE
I.
Pengertian diare
Diare adalah
peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau lebih cair
dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam. Sementara untuk
bayi dan anak-anak, diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja >10
g/kg/24 jam, sedangkan rata-rata pengeluaran tinja normal bayi sebesar 5-10
g/kg/ 24 jam (Juffrie, 2010).
II. Penyebab
diare
1)
Diare akibat
virus, misalnya influenza perut dan travellers diarrhea yang disebabkan antara
lain oleh rotavirus dan adenovirus. Virus melekat pada mukosa usus, merusak,
sehingga kapasitas resorpsi menurun. Diare yang terjadi bertahan sampai
beberapa hari, sesudah virus lenyap akan sembuh dengan sendirinya, biasanya 3-6
hari.
2)
Diare bakterial (invasif), agak sering terjadi tetapi
mulai berkurang berhubung semakin meningkatnya derajat higiene masyarakat.
Bakteri tertentu pada keadaan tertentu, misalnya pada bahan makanan yang terinfeksi
kuman menjadi invasif dan menyerbu ke dalam mukosa. Penyebab terkenal dari
jenis diare ini ialah bakteri Salmonella, Shigella, Campylobacter, dan jenis
Coli tertentu.
3)
Diare parasiter, seperti protozoa Entamuba
histolytica, Giardia lambia, dan Cyclospora yang terutama terjadi di daerah
subtropis. Diare ini biasanya bercirikan mencret cairan yang intermiten dan
bertahan lebih lama dari satu minggu.
4)
Diare akibat enterotoksin, diare jenis ini lebih
jarang terjadi. Penyebabnya adalah kuman yang membentuk enterotoksin, yang
terpenting adalah E.coli dan Vibrio cholerae, jarang terjadi oleh Salmonella dan
Shigella. Diare jenis ini juga bersifat self limiting yang akan sembuh dengan
sendirinya lebih kurang 5 hari
Penyebab diare
lainnya diantaranya alergi makanan atau minuman, gangguan gizi, kekurangan
enzim tertentu, dan dapat pula pengaruh psikis
(diare non spesifik), (Tjay dan Rahardja, 2002).
III. Tanda dan gejala
a. Diare dengan dehidrasi ringan, dengan gejala sebagai berikut:
1)
Frekuensi buang air besar 3 kali atau lebih dalam
sehari
2)
Keadaan umum baik dan sadar
3)
Mata normal dan air mata ada
4)
Mulut dan lidah basah
5)
Tidak merasa haus dan bisa minum
b. Diare dengan dehidrasi sedang, kehilangan cairan sampai 5-10% dari berat badan,
dengan gejala sebagai berikut :
1)
Frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dan
sering
2)
Kadang-kadang muntah, terasa haus
3)
Kencing sedikit, nafsu makan kurang
4)
Aktivitas menurun
5)
Mata cekung, mulut dan lidah kering
6)
Gelisah dan mengantuk
7)
Nadi lebihcepat dari normal, ubun-ubun cekung
c. Diare dengan dehidrasi berat, kehilangan cairan lebih dari 10% berat badan,
dengan gejala:
1)
Frekuensi buang air besar terus-menerus
2)
Muntah lebih sering, terasa haus sekali
3)
Tidak kencing, tidak ada nafsu makan
4)
Sangat lemah sampai tidak sadar
5)
Mata sangat cekung, mulut sangat kering
6)
Nafas sangat cepat dan dalam
7)
Nadi sangat cepat, lemah atau tidak teraba
8)
Ubun-ubun sangat cekung
IV.
Cara mengatasi
a. Adsorben dan obat pembentuk masa
Adsorben
seperti kaolin, tidak dianjurkan untuk diare akut. Obat-obat
pembentuk masa seperti isphagula, metil selulosa, dan sterkulia bermanfaat
dalam mengendalikan konsistensi tinja pada ileostomi dan kolonostomi, serta
dalam mengendalikan diare akibat penyakit divertikular. Contoh obat yang
termasuk dalam golongan ini antara lain kaolin, pectin, dan attalpugit.
b.
Anti motilitas
Pada diare akut
obat-obat anti motilitas perannya sangat terbatas sebagai tambahan pada terapi
penggantian cairan dan elektrolit. Yang termasuk dalam golongan ini adalah
codein fosfat, co-fenotrop, loperamid HCl, dan morfin
c. Pengobatan diare kronis
Bila diare menetap, beberapa kondisi seperti penyakit Crohn, kolitis
pseudomembran, dan penyakit divertikular perlu dipertimbangkan. Diperlukan
terapi spesifik, termasuk manipulasi diet, obat-obat, dan pemeliharaan hidrasi
yang cukup (Depkes RI, 2001).
Banyak sekali obat yang bermanfaat untuk terapi diare antara lain obat
untuk menurunkan motilitas gastrointestinal, adsorben, dan obat yang
mempengaruhi transport elektrolit. Namun demikian, terapi lini pertama untuk
diare adalah pemberian oralit, yaitu yang sering disebut terapi suportif.
Oralit berfungsi untuk mencegah dehidrasi yang sangat berbahaya bagi penderita
diare, terutama bayi dan lansia (Priyanto dan Lestari, 2008)
Daftar
pustaka
(Belakang, 2004)Belakang, A. L. (2004). E.coli, 1–9.
Sebagai, F., & Enzim, I. (2014). Universitas Sumatera
Utara.
World Gastroenterology Organization global guidelines 2005,.
(2010).
(“World Gastroenterology Organization global guidelines 2005,” 2010)
(Sebagai & Enzim, 2014)
0 comments:
Post a Comment