Friday, December 15, 2017

DIARE



CARA MENCEGAH DIARE


I.        Pengertian diare
Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau lebih cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam. Sementara untuk bayi dan anak-anak, diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja >10 g/kg/24 jam, sedangkan rata-rata pengeluaran tinja normal bayi sebesar 5-10 g/kg/ 24 jam (Juffrie, 2010).

II.   Penyebab diare
1)    Diare akibat virus, misalnya influenza perut dan travellers diarrhea yang disebabkan antara lain oleh rotavirus dan adenovirus. Virus melekat pada mukosa usus, merusak, sehingga kapasitas resorpsi menurun. Diare yang terjadi bertahan sampai beberapa hari, sesudah virus lenyap akan sembuh dengan sendirinya, biasanya 3-6 hari.
2)    Diare bakterial (invasif), agak sering terjadi tetapi mulai berkurang berhubung semakin meningkatnya derajat higiene masyarakat. Bakteri tertentu pada keadaan tertentu, misalnya pada bahan makanan yang terinfeksi kuman menjadi invasif dan menyerbu ke dalam mukosa. Penyebab terkenal dari jenis diare ini ialah bakteri Salmonella, Shigella, Campylobacter, dan jenis Coli tertentu.
3)    Diare parasiter, seperti protozoa Entamuba histolytica, Giardia lambia, dan Cyclospora yang terutama terjadi di daerah subtropis. Diare ini biasanya bercirikan mencret cairan yang intermiten dan bertahan lebih lama dari satu minggu.
4)    Diare akibat enterotoksin, diare jenis ini lebih jarang terjadi. Penyebabnya adalah kuman yang membentuk enterotoksin, yang terpenting adalah E.coli dan Vibrio cholerae, jarang terjadi oleh Salmonella dan Shigella. Diare jenis ini juga bersifat self limiting yang akan sembuh dengan sendirinya lebih kurang 5 hari

Penyebab diare lainnya diantaranya alergi makanan atau minuman, gangguan gizi, kekurangan enzim tertentu, dan dapat pula pengaruh psikis
(diare non spesifik), (Tjay dan Rahardja, 2002).


III.    Tanda dan gejala
a.    Diare dengan dehidrasi ringan, dengan gejala sebagai berikut:
1)    Frekuensi buang air besar 3 kali atau lebih dalam sehari
2)   Keadaan umum baik dan sadar
3)   Mata normal dan air mata ada
4)   Mulut dan lidah basah
5)   Tidak merasa haus dan bisa minum
b.    Diare dengan dehidrasi sedang, kehilangan cairan sampai 5-10% dari berat badan, dengan gejala sebagai berikut :
1)    Frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dan sering
2)   Kadang-kadang muntah, terasa haus
3)   Kencing sedikit, nafsu makan kurang
4)   Aktivitas menurun
5)   Mata cekung, mulut dan lidah kering
6)   Gelisah dan mengantuk
7)   Nadi lebihcepat dari normal, ubun-ubun cekung
c.    Diare dengan dehidrasi berat, kehilangan cairan lebih dari 10% berat badan, dengan gejala:
1)    Frekuensi buang air besar terus-menerus
2)   Muntah lebih sering, terasa haus sekali
3)   Tidak kencing, tidak ada nafsu makan
4)   Sangat lemah sampai tidak sadar
5)   Mata sangat cekung, mulut sangat kering
6)   Nafas sangat cepat dan dalam
7)   Nadi sangat cepat, lemah atau tidak teraba
8)   Ubun-ubun sangat cekung

IV.        Cara mengatasi
a.    Adsorben dan obat pembentuk masa
Adsorben seperti kaolin, tidak dianjurkan untuk diare akut. Obat-obat
pembentuk masa seperti isphagula, metil selulosa, dan sterkulia bermanfaat dalam mengendalikan konsistensi tinja pada ileostomi dan kolonostomi, serta dalam mengendalikan diare akibat penyakit divertikular. Contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain kaolin, pectin, dan attalpugit.
b.    Anti motilitas
Pada diare akut obat-obat anti motilitas perannya sangat terbatas sebagai tambahan pada terapi penggantian cairan dan elektrolit. Yang termasuk dalam golongan ini adalah codein fosfat, co-fenotrop, loperamid HCl, dan morfin
c.    Pengobatan diare kronis
Bila diare menetap, beberapa kondisi seperti penyakit Crohn, kolitis pseudomembran, dan penyakit divertikular perlu dipertimbangkan. Diperlukan terapi spesifik, termasuk manipulasi diet, obat-obat, dan pemeliharaan hidrasi yang cukup (Depkes RI, 2001).
Banyak sekali obat yang bermanfaat untuk terapi diare antara lain obat untuk menurunkan motilitas gastrointestinal, adsorben, dan obat yang mempengaruhi transport elektrolit. Namun demikian, terapi lini pertama untuk diare adalah pemberian oralit, yaitu yang sering disebut terapi suportif. Oralit berfungsi untuk mencegah dehidrasi yang sangat berbahaya bagi penderita diare, terutama bayi dan lansia (Priyanto dan Lestari, 2008)







Daftar pustaka

(Belakang, 2004)Belakang, A. L. (2004). E.coli, 1–9.
Sebagai, F., & Enzim, I. (2014). Universitas Sumatera Utara.
World Gastroenterology Organization global guidelines 2005,. (2010).

(“World Gastroenterology Organization global guidelines 2005,” 2010)
(Sebagai & Enzim, 2014)


0 comments:

Post a Comment

 

berbagi pengetahuan tentang kesehatan Template by Ipietoon Cute Blog Design